ASHTER

SELAMAT DATANG DI BLOG ASHTER FIRMAN, SALAM PERSAUDARAAN

Selasa, 12 April 2016

pepacu jawa


Dedalane guna klawan sekti

Kudu andhap asor

Wani ngalah luhur wekasane

Tumungkula lamun den dukani

Bapang den singkiri

Ana catur mungkur

Bait diatas adalah bait dari tembang mocopat Mijil yang sangat menarik untuk kita ulas dan bahas berhubung situasi saat ini, sebenarnya bait diatas kalau tidak salah selalu ditembangkan pada waktu pengangkatan Sri Sultan di Yogyakarta maupun Sri Susuhunan di Surakarta sebagai pesan moral yg harus dijunjung tinggi oleh pemimpin agar menjadi pemimpin yg adil dan dicintai oleh rakyatnya.

Dedalane guna klawan sekti
Kalau di diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya "jalan utk menjadi berguna atau sakti" maksudnya adalah, manusia wajib untuk menjadi berguna bagi orang lain, sakti ini dimaksudkan bukan hanya sakti karena ngelmu2 kesaktian kanoman tapi lebih ditekankan pada "sakti" karena ngelmu2 sepuh atau mengenal sangkan paraning pambudi dan sangkan paraning dumadi. Adanya pambudi karena dumadi, untuk mengenal sangkan paraning dumadi maka ada sebuah pertanyaan "duluan mana antara telur dan ayam?" atau "duluan mana antara papan dan tulis?", tentu saja pertanyaan ini tidak harus dijawab, tapi kalau harus dijawab maka jawabannya adalah duluan yg bertanya, mengapa bisa bertanya karena sudah bersaksi atas kejadian telur dan ayam atau papan dan tulis, tentu saja ini bukan untuk diperdebatkan tapi sebaiknya direnungkan secara mendalam.

Kudu andhap asor
Artinya adalah "harus rendah hati" atau tawaduk, umat Muhammad(terpuji) itu adalah umat yg tawaduk sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW untuk menekankan sikap2 tawaduk yg dilandasi oleh akhlak yg mulia. Kita sering terjebak suatu istilah "manusia adalah makhluk yg paling mulia dan sempurna", padahal yg disebut manusia (Nas) ini lebih ditujukan kepada jiwa2 yg berbahagia dan tidak hanya bagi bani Adam. Kita sering melihat orang2 yg mau membangun gedung atau rumah dengan menggusur rumah "orang" lain yg berwujud pohon angker atau rumahnya makhluk halus, padahal makhluk halus itu sudah duluan tinggal di pohon itu dan tidak menganggu, namun dengan "atas nama" makhluk paling "mulia", orang itu memanggil paranormal untuk menggusur si makhluk halus tsb, tetntu saja si makhluk halus tsb marah karena rumahnya digusur seenaknya, si makhluk yg tadinya tidak menganggu akhirnya jadi mengganggu orang2 sekitarnya karena merasa aspirasinya tidak diperhatikan, karena sudah meresahkan orang2 maka dipanggil lah paranormal tadi utk mengusir makhluk halus tsb, karena tidak mau pergi lalu dibakarlah si makhluk halus itu oleh si paranormal dengan ajian tertentu. Cerita diatas kalau diterjemahkan ke hub sesama manusia kira2 jadi begini "PT A mau membangun jembatan layang melintasi kampung B, hampir semua penduduk desa B mau dibebaskan tanahnya oleh PT A kecuali satu orang yaitu pak C, karena hanya satu orang yg tidak sepakat, maka PT A memutuskan utk menggusur paksa rumah pak C, karena merasa diabaikan pak C lalu mendatangi PT A dan berbuat onar disana menuntut keadilan, karena merasa terancam maka PT A memerintahkan satpam untuk membakar dan membunuh pak C. Nah kira2 mana yang lebih mulia antar yg menggusur yg ngaku2 paling mulia dan sempurna dengan yg digusur yg dianggap makhluk rendahan? mari kita revisi ulang makna dari "makhluk paling mulia dan sempurna". Sebagai manusia hendaknya kita tawaduk tidak hanya sesama manusia tapi juga hub antar makhluk Tuhan, jangankan contoh diatas, Nabi SAW saja melarang kita untuk kencing di bawah pohon atau dilubang binatang, hal ini mengisyaratkan bahwa kita sebagai umat muhammad(terpuji) harus "andhap asor" jangan mengedepankan sikap "adigang adigung adiguna". Contoh diatas adalah cerminan bahwa tidak baik kita memaksakan kehendak kepada orang lain yg kita anggap lebih rendah dan bodoh, karena itu merupakan wujud dari sikap kesombongan yg bertentangan dari sikap andhap asor.

Wani ngalah luhur wekasane
Berani mengalah akan luhur pada akhirnya, begitu kira2 artinya. Orang yg mengalah atau ngalah itu bukan berarti kalah, tapi menyimpan energi kita yg semula untuk tujuan supaya mendapatkan pengakuan dari lawan untuk ditujukan ke tujuan yg lebih baik, bagi saya sendiri ngalah itu menuju ke Allah, sama halnya ngidul artinya menuju kidul, ngetan menuju wetan dsb. Orang yg menuju Allah dengan sungguh2 dan membersihkan hati dari kekotoran maka disadari atau tidak orang tsb telah "menyerupai" dlm arti sifat dan asma bukannya secara wujud, ada riwayat yg menyatakan bahwa apabila kita mendekat ke Allah se hasta maka Allah mendekat se depa, apabila kita jalan maka Allah "lari", sedemikian besar cintanya Allah kepada hamba2Nya. Jaminan bagi orang2 yg menuju Allah adalah ditinggikan derajatnya, bagi kebanyakan orang derajat tinngi itu adalah harta dan pangkat, tapi bagi Allah orang yg berderajat tinggi adalah orang2 yg mendapat ridhoNya, bisa jadi kita mempunyai harta banyak, berpangkat tinggi, naik haji berkali-kali dan rajin sholat malam hingga dahinya hitam tapi dimata Allah kita tidak berderajat tinggi, itu karena Allah tidak ridho kepada kita, disebabkan bisa jadi harta dan poangkat kita tidak didapatkan secara halal, amal sholeh kita kerjakan tidak ikhlas karena pamer dan menjaga status kita sebagai ustadz atau kyai kondang. Salah satu laku kejawen untuk menuju Allah adalah topo ngeli atau "ngeli neng ora keli" artinya adalah mengikuti arus sungai tapi tidah hanyut, laku ini sering dilakukan Sunan Muria. Sedangkan bagi Sunan Kalijaga, lakunya adalah "njogo kaline dhewe" artinya menjaga sungai sendiri atau air kehidupan di diri kita supaya tetap jernih dan bebas dari kotoran. Apabila kedua laku ini digabungkan maka artinya adalah, mengikuti air kehidupan kita yg jernih tapi tidak hanyut dan tidak pula diam seperti batu, air kehidupan ini akan bermuara ke lautan kebenaran Allah yg haq yg tanpa batas dan menjadi tempat penyangga tiang2 Arsy Allah, tetntu saja ini adalah sebuah simbol2 yg penuh makna dlm menuju Allah.

Tumungkula lamun den dukani
tertunduklah walaupun dimarahi, artinya adalah ketika marah atau dimarahi hati harus tetap dingin, kita mudah untuk menenangkan hati dan pikiran disaat kita sedang santai dan dlm suasana senang, tapi ketika kita dimarahi oleh atasan kita misalnya, maka hati ini akan berontak karena merasa tidak salah, seketika itulah hati yg semula jernih menjadi keruh, begitu pula ketika memarahi, hati kita akan merasa tinggi karena merasa paling benar. Menjaga hati supata tetap tumungkul pada waktu marah atau dimarahi adalah hal tersulit, tapi kalau kita bisa menjaganya maka hikmah2 besar akan bisa kita dapat. Tidak semua orang yg memarahi atau dimarahi itu benar atau salah, bukan masalah benar atau salah ketika kita dimarahi, tapi yg penting adalah berserah diri kepadaNYa, introspeksi diri kita, bersihkan hati kita supaya kita bisa menjaga niat yg lurus menuju kepadaNya.

Bapang den singkiri
Segala rintangan harus kita hindari, rintangan itu sebaiknya kita hindari bukannya malah kita tabrak atau tantang, apabila ada pohon yg tumbang dijalan maka sebaiknya kita pindah pohon tsb ke tepi jalan bukannya kita bakar pohon yg tumbang tadi, karena dengan menyingkirkan maka kita telah menyelesaikan masalah dan bisa mengambil manfaat dari pohon tsb, tapi kalau membakarnya maka kita telah menghancurkan masalah karena yg tersisa hanyalah arang, api dan kepulan asap yg menyesakkan dada.

Ana catur mungkur
Apabila ada desas desus maka jauhilah supaya terhindar dari gosip dan fitnah yg menyesatkan. Tiap hari kita disuguhi berbagai tontonan gosip tentang kawin cerai para artis di televisi, sebuah tontonan yg tidak layak dijadikan tuntunan. Di Amerika sana, presiden Amerika sekarang Barack Obama berhasil menarik simpati publik Amerika karena tidak mau ikut2an menghujat lawan politiknya, hal ini sebaliknya dengan lawannya John McCain yang terang2an menyindir dan menghujat Barack Obama dalam kampanyenya, dan hasilnya adalah Barack Obama pemenangnya, saya kira hal ini tidak jauh berbeda terhadap pilpres di Indonesia saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar